Pemprov Jateng Beberkan Strategi Tekan Sebaran HIV/ AIDS

BERITAPANTURA.id, SEMARANG – Pemprov Jateng melakukan sinergi untuk menekan persebaran infeksi HIV/ AIDS. Pasalnya, estimasi kasus ini di Jateng mencapai 52.677 orang, di mana kasus terkonfirmasi sebanyak 35.238 orang dengan HIV/ AIDS (ODHA).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah Yulianto Prabowo menyebut, semakin dini ODHA ditemukan, akan lebih cepat pula pengobatan yang dilakukan. Sebab, ketika terinfeksi penyakit ini, orang tersebut harus meminum obat seumur hidupnya.

Wakil Gubernur Jawa Tengah sekaligus Ketua Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Jateng Taj Yasin Maimoen dalam sebuah obrolan publik di TVRI Jateng, Selasa (30/12/2021) malam. (Foto: Diskominfo Jateng)

“Semua harus berkolaborasi, termasuk penderita dan keluarganya. Angka tadi banyak namun jangan kaget, karena kita berkewajiban mengungkap, mencari, dan menemukan agar bisa segera diobati,” paparnya, dalam sebuah obrolan publik di TVRI Jateng, Selasa (30/12/2021) malam.

Yulianto menyebut, di Jateng diperkirakan ada 52 ribu kasus HIV AIDS. Namun demikian, hingga sekarang baru ditemukan sekitar 72 persen dari angka tersebut.

Dengan kondisi itu, pihaknya tidak pernah berhenti melakukan edukasi melalui berbagai media. Bahkan, edukasi mengenai bahaya penyakit itu juga disampaikan di sekolahan.

Wakil Gubernur Jawa Tengah sekaligus Ketua Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Jateng Taj Yasin Maimoen mengatakan, ada kesullitan tersendiri dalam pengungkapan kasus ini. Pasalnya, penderita penyakit ini seringkali mendapatkan stigma negatif dari masyarakat sekitar.

“Untuk mengungkap cukup sulit, karena ada justifikasi dari masyarakat. Kalau terpapar HIV/AIDS langsung bicara ke dokter, karena semakin kita mengakui, kita bisa menyelamatkan keluarga,” ujar Gus Yasin, sapaan Wagub.

Oleh karena itu, pihaknya terus melakukan edukasi agar masyarakat mengetahui betul tentang penyakit ini. Selain itu, edukasi penting agar stigma negatif dapat dihapus.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Jateng Irma Makiah menyebutkan, penanganan HIV/AIDS sempat terkendala dengan pandemi Covid-19. Namun kini, pihaknya terus mendorong tes bagi populasi berisiko.

Mereka yang berisiko terinfeksi penyakit ini, di antaranya wanita pekerja seks (WPS), pengguna jarum suntik (narkoba suntik) atau penasun, lelaki suka lelaki (LSL), dan mereka yang pernah kontak dengan orang yang positif HIV/ AIDS.

“Kita dorong kabupaten dan kota mencapai standar pelayanan minimum. Kemudian reagen sempat tertunda karena impor, sekarang sudah tersedia kembali. Oleh karenanya kita dorong untuk menjalankan layanan mobile VCT, lakukan pencarian kasus, kita supervisi dan mentoring secara rutin,” sebutnya Rabu (1/12/2021).

Selain mendorong Voluntary Counselling and Testing (VCT), pihaknya juga menggandeng lembaga swadaya masyarakat melakukan penjangkauan kelompok berisiko. Karena, untuk memasuki kelompok tersebut memiliki kesulitan tersendiri.

Ia mengungkapkan, jumlah layanan tes HIV/ AIDS sebanyak 1.043 yang tersebar pada ratusan layanan kesehatan. Mulai dari 325 Puskesmas, 90 rumah sakit, dan empat balai kesehatan.

Data pada buku saku kesehatan Dinkes Jateng, jumlah temuan kasus HIV hingga triwulan ketiga 2021 mencapai 1.945 kasus. Sementara kasus AIDS mencapai 522 kasus. (BP/wan)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: