Terendam Rob, 200 Hektar Pemukiman Warga Demak Sudah Berulangkali Renovasi Rumah

BERITAPANTURA.idDEMAK – 200 hektare permukiman di Desa Sriwulan, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, terendam banjir rob. Warga yang bertahan yakni mereka rumahnya terdampak rob namun mampu meninggikan tanahnya.

Sedangkan yang lain terpaksa harus meninggalkan rumahnya dan memilih menyewa kos atau mengontrak rumah di tempat yang tidak terendam.

Kondisi rumah warga yang terendam rob, saat ini ada sekitar 200 hektar pemukiman warga Demak yang terkena rob. (Dok : Foto Istw)

Kepala Desa Sriwulan, Zamroni, menerangkan bahwa pada musim ini rob masih sering terjadi namun saat malam hari. Selain rumah, tampak beberapa sekolahan, termasuk SDN 3 Sriwulan sebagian wilayahnya tergenang banjir rob.

Meskipun demikian, siswa di sana kini masih berangkat sekolah dan melakukan aktivitas belajarnya lantaran rob sudah mulai surut saat siang hari. Sehingga hal tersebut tak menghalangi proses belajar mengajar di sekolah itu.

“Jika pagi hari rob sudah mulai surut dan tanahnya mengering sehingga siswa tetap berangkat sekolah,” tuturnya, Senin (22/11/2021).

Pria yang kerap disapa oleh warga sebagai Pak Zam tersebut menyebutkan bahwa dari total sekitar 400 hektare di wilayah yang dipimpinnya, hampir setengahnya terendam rob. “Wilayah kami dari 400 hektar itu, sekarang yang tidak terendam rob tinggal 200 hektare karena masih ada bangunan rumahnya. Untuk garis pantai yang sudah tergerus sudah sekitar dua kilometer,” tuturnya.

Ia berharap bahwa pemerintah baik Pemkab, Pemprov maupun pusat dapat segera melakukan pencegahan bencana tersebut, termasuk menyelesaikan proses penggarapan tanggul laut.

“Karena masyarakat (setempat) sudah menderita lama dan termiskinkan oleh alam, sehingga harapannya agar kondisi ini segera bisa teratasi,” harapnya.

Zamroni sendiri sempat mengundang para akademisi ke desa yang dipimpinnya untuk melakukan diskusi forum mengenai permasalahan rob di sana pada Kamis (4/11/2021) lalu.

Ia mengundang satu di antaranya yakni seorang ahli iklim dari Universitas Sriwijaya, Prof Dr Iskhaq Iskandar.

“Sejauh mana apakah subsiden, abrasi atau kenaikan permukaan laut itu yang masih kami belum ketahui,” ungkapnya.

Iskhaq mengatakan bahwa solusi sementara saat ini yang bisa dilakukan yakni bagaimana caranya agar warga bisa beradaptasi dengan alam.

Satu di antara warga yang rumahnya berbatasan langsung dengan laut, Marti (62), mengungkapkan keresahannya.

Ia yang menempati rumah itu sejak 2016 mengaku sudah meninggikan tanahnya sampai dua kali.

“Saya bangun sendiri talud di belakang rumah karena dekat sekali dengan laut.
Kalau waktu rob, saya tidak bisa tidur,” ujarnya.

Sementara itu, di lain waktu dan tempat, Bupati Demak, Eisti’anah, mengatakan bahwa pihaknya tengah berpikir keras menangani persoalan rob di Demak, khususnya di sejumlah desa di Kecamatan Sayung.

“Kami sudah menginstruksikan ke berbagai pihak bahwa visi misi program kami terkait isu strategis di Kabupaten Demak bisa selesai dua sampai tiga tahun ke depan, setelah itu berpikir untuk penanganan rob.

Meskipun demikian, di sela-sela itu kami juga mengunjungi daerah rob seperti di Timbulsloko dan mendengar aspirasi mereka.

“Sebagian dari mereka meminta relokasi dan kami sudah siapkan tempatnya,” tutur Eisti’anah ketika ditemui seusai Rapat Paripurna Ke-39 Masa Sidang III (Ketiga) yang berlangsung di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kab Demak, Senin (8/11/2021) lalu.

Ia juga mengatakan bahwa penanganan rob tersebut juga terkendala anggaran.

“Kami juga sudah mengakui bahwa tidak mampu secara dana tapi kami sudah melobi baik pihak provinsi maupun pusat jika nanti ada bantuan dari investor sehingga bisa mengurangi dampak dari rob tersebut,” pungkasnya. (BP/xpo)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: