Masuk Musim Penghujan, Pemkot Pekalongan Ingatkan Warga Waspada DBD

BERITAPANTURA.idKOTA PEKALONGAN – Hujan dengan intensitas tinggi belakangan ini marak terjadi. Bahkan sejumlah wilayah di Kota Pekalongan mengalami banjir maupun genangan air.

Tingginya intensitas hujan di Kota Batik tersebut dalam beberapa pekan terakhir membuat Pemerintah Kota Pekalongan bersiaga mengantisipasi segala hal yang mugkin terjadi, terutama Demam Berdarah Dengue (DBD). Pasalnya, musim penghujan merupakan fase berkembangbiaknya jentik nyamuk. Kebersihan lingkungan perlu diperhatikan masyarakat.

Foging cegah demam berdarah di wilayah Kota Pekalongan. (Foto: Dinkominfo Kota Pekalongan)

Walikota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid mengungkapkan bahwa, meski saat ini masih didera pandemi Covid-19,masyarakat Kota Pekalongan diminta jangan lelah akan penyakit DBD, terlebih saat ini cuaca sedang memasuki musim hujan.

“Walaupun kita sudah zero pasien Covid-19 di Rumah Sakit, tetapi ini jangan menjadikan kita merasa menang dan lengah, bahwa masih ada kemungkinan ancaman varian-varian virus baru Covid-19. Mudah-mudahan tidak sampai ke Kota Pekalongan,” kata Aaf.

Aaf, sapaan akrabnya, mengingatkan bahwa kita jangan abai terhadap potensi penyakit-penyakit rutin yang bisa menimpa masyarakat di musim-musim tertentu, seperti saat ini sudah memasuki awal penghujan yakni adanya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ternyata sudah ada beberapa kasus yang dirawat di rumah sakit.

Diharapkan, lanjut dia, masyarakat bisa saling mengingatkan untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan. Pasalnya, kebersihan lingkungan menjadi langkah penting dalam mencegah berkembang biaknya jentik nyamuk. Untuk itu warga diminta terus waspada sembari memastikan lingkungan tetap bersih.

“Seperti bagaimana membersihkan lingkungan,membersihkan selokan,ban bekas maupun sampah ataupun apapun yang bisa membuat sarang nyamuk Aedes Aegypti. Angka kematian akibat DBD pun masih ada, walaupun prosentasenya sedikit terutama yang menyerang kepada anak-anak. Kita harus tetap waspada terhadap semua penyakit yang rutin terjadi di musim-musim tertentu,” jelasnya.

Sementara Wakil Walikota Pekalongan Salahudin menambahkan bahwa warga juga harus membudayakan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Tanpa adanya peran serta warga, maka apapun upaya yang dilakukan pemerintah untuk meminimalisir demam berdarah tetap tidak akan membuahkan hasil sesuai yang diharapkan.

“Sehat itu enak dan mahal harganya, maka nikmat kesehatan ini harus selalu dijaga, salah satunya dengan berperilaku hidup bersih dan sehat. Dengan begitu lingkungan akan menjadi sehat, rumahnya sehat dan orangnya pun sehat pula,” imbuh Wawalkot Salahudin.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan Slamet Budiyanto menyebutkan, kendati temuan kasus dan kematian akibat DBD di tahun ini cenderung menurun, tetapi masyarakat harus selalu menerapkan 3 M Plus yakni Menguras dan Menyikat tempat penampungan air, Mengubur/Menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi maupun drum, Mendaur Ulang/Memanfaatkan barang bekas yang bernilai ekonomis, serta Mencegah gigitan dan perkembangan nyamuk.

Sebagai informasi, berdasarkan data, jumlah kasus DBD di Kota Pekalongan terhitung pada Januari-Juli 2021, tercatat sebanyak 22 kasus,dimana untuk kasus kematian nihil. Sementara, di tahun 2020 lalu pada periode yang sama, jumlah kasus DBD mencapai 69 kasus dengan jumlah kasus kematian sebanyak 6 orang meninggal dunia.

“Terkait adanya pergantian musim ini,fokus kita adalah penyakit DBD yang biasanya melonjak di musim penghujan. Namun, alhamdulillah untuk kasus tahun ini cenderung menurun dibandingkan tahun sebelumnya, kasus kematiannya pun juga menurun,” ungkap Budi.

Akan tetapi, imbuh Budi, kesadaran masyarakat untuk bisa melaksanakan 3M Plus ini harus ditingkatkan, terutama membersihkan tempat-tempat yang tidak terjangkau oleh masyarakat seperti banyak timbunan sampah yang berpotensi untuk adanya genangan air yang perlu diwaspadai. (BP/wan)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: