Ikuti Lapak Ganjar, Alat Sholat Motif Macan Jadi Terkenal

BERITAPANTURA.idJEPARA – Perkembangan batik di tanah air semakin pesat setelah diakui sebagai intangible cultural haritage (ICH) atau warisan budaya tak benda oleh Unesco 2 Oktober 2009 silam. Kini, produksi batik hampir ada di tiap daerah di Indonesia.

Bukan hanya secara kuantitas produsen, batik juga lahir dengan berbagai motif dan pewarnaan. Dan, batik kerap kali dijumpai pada acara formal maupun non formal.

Di Jepara, misalnya, ada batik bermotif macan (harimau) tutul. Batik yang diproduksi @mamimacan.jepara Ini terinspirasi oleh ikon macan kurung, yang diinisiasi oleh RA Kartini. Macan kurung sendiri adalah karya ukir berbentuk harimau yang sedang dalam sangkar (terkurung). Selain ukiran, macan kurung juga sudah menjadi ikon di gapura selamat datang di Kabupaten Jepara, baik dari Demak dan Kudus.

Nah, batik bermotif macan tersebut memang belum seterkenal karya perajin di Pekalongan dan Solo. Tapi sejak diikutsertakan di Lapak Ganjar, permintaan batik asal Jepara ini meningkat.

Pencetus batik macan, Amrina Rosyida menuturkan bahwa kali pertama mencetuskan batik bermotif macan tahun 2018. Ia terinspirasi dari macan kurung, ikon Kabupaten Jepara.

“Saya suka macan, dan di Jepara ada ikon Macan Kurung, kenapa tidak dijadikan motif batik saja. Nah, dari situ saya bikin motif macan dan dikerjakan bersama pembatik yang ada di sini,” ujarnya, Senin (26/04/2021).

Diakuinya, penjualan batik karyanya hanya sebatas permintaan dari pembeli tertentu dengan jumlah terbatas. Namun, setelah ikut Lapak Ganjar, batik macan lebih dikenal dan banyak yang penasaran.

“Kemarin kita ikut Lapak Ganjar pas edisi perlengkapan dan peralatan solat. Kebetulan kita produksi mukena dan sajadah batik motif macan. Akhirnya banyak yang tahu batik macan ini,” tuturnya.

Bukan hanya batik macan, pengusaha tenun Troso, Bagus juga menceritakan usahanya yang jatuh akibat Covid-19, kembali bersemangat setelag ikut Lapak Ganjar.

“Dulu saya punya 10 karyawan untuk produksi tenun. Sejak ada pandemi, karyawan tinggal satu orang,” kisahnya.

Kebetulan, ia masih menyimpan sisa peci tenun puluhan jumlahnya. Dan, ketika diikutsertakan Lapak Ganjar langsung ludes dibeli orang.

“Iya, punya peci tenun langsung habis dan ludes setelah ikut Lapak Ganjar. Nah, sekarang saya produksi sarung meski punya satu karyawan,” imbuhnya.

Menurutnya, Lapak Ganjar dapat membantu UMKM yang sedang lesu akibat pandemi.

“Pengusaha butuh menghidupi usahanya. Lapak Ganjar sangat membantu untuk promosi,” tandasnya. (BP/02)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: