Menilik Taman Loka Jaya dan Sejarah Ukur Sunan Kalijaga di Desa Tengguli

BERITAPANTURA.id, JEPARA – Sejumlah destinasi wisata baru bermunculan di tengah kondisi pandemi Covid-19, beberapa di antaranya menyuguhkan keindahan alam dengan latar belakang panorama pedesaan. Kini, di Jepara juga banyak bermunculan objek wisata baru dengan menawarkan spot keindahan alam yang instagramable.

Dari banyak destinasi wisata yang baru ini, antaranya adalah Taman Loka Jaya yang berlokasi di Desa Tengguli Kecamatan Bangsri Jepara. Berbeda dengan tempat lain, destinasi ini menyajikan keindahan pemandangan dengan latar belakang gunung dan area persawahan.

Situs ukur yang menurut cerita merupakan milik Sunan Kalijaga, terletak di Desa Tengguli Kecamatan Bangsri Jepara (Foto : PPKKN UNISNU)

Sejumlah mahasiswa KKN UNISNU Jepara juga berkesempatan menggandeng pihak pengelola dalam rangka mempercantik beberapa spot taman di area tersebut. Salah satunya lewat papanisasi dan pengecatan fasilitas taman.

Khoiruddin Farid, selaku ketua Pokdarwis desa Tengguli mengungkapkan antusiasnya dalam adanya kegiatan tersebut. Beliau sangat antusias dengan program kerja yang dilaksanakan oleh mahasiswa peserta KKN.

“Kami terbantu dengan kehadiran mahasiswa, ada beberapa hal yang bisa kami diskusikan bersama terkait pengembangan Taman Loka Jaya. Antaranya juga visualisasi sejarah dari situs ukur yang terletak di desa kami,” ungkap nya.

Selain keberadaan Taman Loka Jaya, di desa Tengguli juga terdapat Situs Ukur Sunan Kalijaga. Ini merupakan sebuah alat ukur yang konon digunakan Sunan Kalijaga saat mencari kayu untuk pembuatan saka atau tiang penyangga Masjid Agung Demak.

Menurut cerita, pada tahun 1479 M selepas Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati dan Sunan Bonang selesai membuat saka atau tiang Masjid Demak, Sunan Kalijaga masih mencari kayu untuk membuat tiang terakhir.

Dalam misi mencari kayu untuk tiang ke-empat ini, sampai lah ke daerah timur hingga daerah yang sekarang bernama Desa Tengguli. Namun saat beliau mencari kayu, yang ditemui yakni kondisi kayu yang tengahnya berlubang dan tidak utuh. Kemudian dikarenakan kondisi kayu yang ditemukan berlubang, beliau meninggalkan “ukur” di daerah tersebut.

Konon menurut cerita masyarakat dulu, setiap ada burung yang terbang melintasi daerah tempat “ukur” Sunan Kalijaga ini pasti langsung rontok (red : gundul, brindili). Oleh sebab itu daerah tersebut dinamai Gundil seperti sekarang, yang diambil dari peristiwa burung yang gundul/brindili saat melintas di wilayah ukur tersebut. (BP/01)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: