Abdul Wachid : Kebijakan Gubernur Jateng Persulit Upaya Penanganan Korban Bencana

BERITAPANTURA.id, JEPARA – Kebijakan Gubernur Ganjar Pranowo, Jateng 2 Hari Di Rumah Saja dinilai mempersulit upaya penanganan korban bencana yang dilakukan berbagai elemen.

Selain itu, kebijakan tersebut juga cenderung merugikan pelaku usaha sektor informal terlebih yang beraktivitas di pasar tradisional. Akibatnya, terjadi lonjakan harga bahan pokok yang kian memberatkan masyarakat, terlebih saat pandemi Covid-19.

Anggota DPR RI asal Dapil Jateng 2 (Jepara, Kudus dan Demak) Abdul Wachid memberikan bantuan terhadap warga terdampak banjir di wilayah Kabupaten Kudus, Senin (08/02/2021).

Anggota DPR RI asal Dapil Jateng 2 (Jepara, Kudus dan Demak) Abdul Wachid mengatakan pihaknya banyak menerima aduan dari masyarakat seiring kebijakan Jateng Di Rumah Saja yang berlaku Sabtu – Minggu (6-07/02/2021). Kebijakan itu dinilainya tidak efektif dan justru malah cenderung memunculkan masalah baru.

“Sehari jelang pemberlakuan kebijakan itu, saya melihat adanya “kepanikan” masyarakat. Masyarakat memborong kebutuhan pokok untuk stok minimal selama dua hari,” ujar Wachid, Senin (08/02/2021).

Lebih lanjut, Wachid menuturkan kondisi ini diperparah dengan hujan yang terus menerus mengguyur dan mengakibatkan sejumlah wilayah di Jateng terendam banjir. Disinyalir situasi itu dimanfaatkan pihak-pihak tertentu sehingga memicu terjadinya lonjakan harga.

Dan pada Sabtu – Minggu atau saat berlakunya kebijakan Gubernur Jateng itu, pasar tradisional terpantau sepi. Hal ini tentu saja merugikan para pelaku usaha sektor informal yang beraktivitas di berbagai pasar tradisional itu.

“Masyarakat justru terbebani dengan kebijakan Dua Hari Di Rumah Saja. Ini jelas kebijakan yang tidak efektif,” katanya.

Tak hanya itu, menurut Abdul Wachid kebijakan Gubernur Jateng ini juga berdampak pada penanganan korban bencana. Ia mencontohkan seperti kegiatan peduli korban bencana yang dilakukan oleh DPD Gerindra Jateng maupun jajaran DPC di sejumlah kabupaten/kota. Semisal dapur umum yang didirikan Gerindra untuk membantu korban banjir di Kudus, Jepara, Semarang dan lainnya.

Dapur umum yang didirikan Gerindra kesulitan memperoleh bahan baku makanan karena selama dua hari pasar tradisional sepi aktivitas jual beli. Dan jika kebutuhan pokok itu ada harganya juga melonjak.

“Contoh paling gampang tempe yang biasanya Rp 2 ribu – Rp 3 ribu, kini jadi Rp 6 ribu. Termasuk telur dan kebutuhan lainnya juga ikutan naik,” beber Wachid yang juga Ketua DPD Gerindra Jateng ini.

Abdul Wachid mendesak kebijakan Dua Hari Di Rumah ala Gubernur Jateng ini dievaluasi. Menurutnya masih ada banyak cara yang elegan dan sekaligus efektif untuk menekan penyebaran Covid-19.

“Jangan sampai kebijakan yang diambil malah justru memicu masalah baru yang merugikan masyarakat,” tandasnya.

Kesulitan memperoleh bahan baku makanan juga dirasakan oleh warga yang terdampak banjir. Salah satunya seperti yang terjadi di Desa Gulang, Mejobo, Kudus.

Sejak beberapa hari lalu hingga kini banjir masih merendam sejumlah pedukuhan di desa ini. Sebanyak 54 warga atau 19 KK bahkan terpaksa mengungsi di balai pengungsian.

Plt Bupati Kudus, HM Hartopo mengapresiasi berbagai pihak yang peduli dengan korban bencana. Pihaknya memastikan berbagai kebutuhan pokok untuk warga terdampak banjir ini selalu terpenuhi.

“Kami harap warga terdampak bencana tidak perlu khawatir. Kebutuhan logistik dan layanan kesehatan dijamin pemerintah,” pungkasnya. (BP/02)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: