Kawasan Tanah Mas Jadi Contoh Penanganan Banjir di Kota Semarang

BERITAPANTURA.id, SEMARANG– Persoalan banjir dan rob di Kota Semarang terutama di kawasan pesisir dinilai kian berkurang. Capaian penanganan banjir di kota ini secara umum disebut sudah berhasil.

Hal itu disampaikan Kabid Sumber Daya Air dan Drainase, Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang Arif Dwi Harjono di hotel MG Suite Jl. Gajahmada Semarang, Kamis (04/02/2021). Dirinya mengatakan, banyak variabel yang memang harus dilihat untuk menilai penanganan banjir bisa berjalan baik.

Diskusi dan Press Converence bertajuk “Semarang Berbenah Untuk Lebih Hebat” terkait persoalan banjir dan rob wilayah semarang utara di Hotel MG Setos Jl. Gajahmada Semarang, Kamis (04/02/2021).

“Sistemnya harus dilihat secara terpisah. Secara umum pada wilayah yang sudah memiliki sistem bisa kami nilai berhasil. Cuma untuk daerah-daerah tertentu, memang harus diupayakan lagi,” ujar Arif.

Lebih lanjut, Arief menuturkan, secara spesifik penanganan banjir dan rob di daerah pesisir atau wilayah Semarang bagian utara seperti Tanah Mas sudah mencapai 80 persen. Untuk mencapai 100 persen dibutuhkan peran serta dari masyarakat untuk mendukung program yang sudah dijalankan pemerintah kota.

“Salah satu problemnya yakni persoalan sampah. Kalau masih terjadi, maka berpengaruh terhadap operasional pompa yang ada. Maka kami perlu meyakinkan warga untuk turut serta menjaga lingkungan,” tandasnya.

Menurut Dr Suseno Darsono PhD selaku Dosen Sumber Daya Air dan Bencana Fakultas Teknik Undip, menilai, sistem drainase di wilayah Semarang Tengah diuntungkan dengan keberadaan pompa berkapasitas 35 meter kubik per detik. Pompa tersebut harus dijaga, sebab jika didapati persoalan, maka berpengaruh terhadap sistem pengendaliannya dan akan mengakibatkan banjir.

“Saluran atau sistem drainase utama saya melihat sudah baik. Artinya persoalan banjir bisa dikendalikan. Selanjutnya tinggal sistem drainase yang masuk kategori tersier,” ungkapnya.

Suseno mengakui, Kota Semarang sudah maju dalam penanganan banjir. Upaya penanggulangan banjir dengan membangun kolam retensi juga tak kalah penting. Secara teknis, kolam tersebut berfungsi untuk menahan air sementara, sebelum dibuang ke aliran sungai.

“Supaya menarik untuk dihuni masyarakat, desain harus dirancang sedemikian rupa,” ungkapnya.

Jauh sebelum ini, persoalan kawasan pesisir tak sekadar banjir dan rob. Jika dikaitkan, kedua hal ini tak lepas dari persoalan penurunan tanah. Penyebabnya berlainan, bisa dipicu aktivitas manusia seperti pengeboran sumber air yang berlebihan hingga dampak dari beban bangunan.

Sementara Kasi Pengendalian Tata Ruang Dinas Penataan Ruang Kota Semarang, Transiska Luis Marina menyebut, pembangunan sejumlah polder/embung dan kolam retensi dinilai cukup signifikan mengurangi persoalan banjir di Kota Semarang.

“Sebab, dari hulu sudah ada Waduk Jatibarang sebagai pengendali banjir bandang. Kemudian ada Banjir Kanal Barat yang dilebarkan dan dikeruk sehingga tidak lagi dangkal,” bebernya.

Ia menambahkan, pihaknya akan berupaya bagaimana perencanaan kota terkait penempatan embung dalam pengembangan kawasan di Semarang. Kami selalu melakukan identifikasi, disertai dengan kajian teknis, baik dari sisi tata kota maupun pekerjaan,” pungkasnya. (BP/02)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: