Angkat Cita Rasa Baru, Hartopo Seduh Kopi Muria dengan Air Tiga Rasa

banner 468x60

BERITAPANTURA.id, KUDUS – Agrowisata di kawasan Gunung Muria kembali menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus. Kali ini, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kudus H.M. Hartopo mengunjungi lokasi Air Tiga Rasa Rejenu di Desa Japan untuk mengangkat potensi destinasi wisata.

Dengan mengayuh sepeda, Hartopo menyusuri jalanan Desa Japan sambil menikmati pemandangan alam nan asri. Terdapat tiga pilihan wisata dalam lokasi tersebut, yakni wisata religi di Makam Syaikh Sadzali Rejenu, serta wisata alam di sumber mata Air Tiga Rasa dan Perkebunan Kopi Muria khas Desa Japan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kudus H.M. Hartopo menikmati kopi di lokasi Air Tiga Rasa Rejenu Desa Japan. (Foto: Diskominfo Kudus0

Sampai di lokasi, Hartopo mencoba mengangkat cita rasa baru bagi pecinta kopi dengan memadukan kekhasan Kopi Muria Desa Japan dengan air tiga rasa. Perpaduan tersebut memunculkan tiga cita rasa baru yang khas sesuai karakter tiga sumber mata air.

Usai membuat dan mencicipi secara langsung, Hartopo mengungkapkan cita rasa yang dihasilkan. Kopi yang diramu dengan sumber mata air pertama memiliki rasa asam yang dominan, kopi kedua mempunyai rasa soda yang kuat, dan kopi ketiga memiliki rasa yang lebih lembut.

“Ternyata, setelah kita bandingkan pakai air biasa memang beda. Kalau pakai air tiga rasa ada rasa asam yang dominan dengan sedikit rasa soda. Rasa kopinya masih terasa, cuma rasa asam dan soda lebih dominan. Selama ini, yang terkenal di sini kan air tiga rasa saja, maka kita coba inovasi lewat kolaborasi kopi dengan air tiga rasa,” ujarnya.

Selama ini, air tiga rasa memang terkenal memiliki kombinasi rasa asam dan rasa soda. Karakter yang dihasilkan pun berbeda-beda sesuai letak sumber mata air di Sendang Petilasan Rejenu. Oleh sebab itu, inovasi tersebut diharapkan turut mengangkat potensi wisata alam dan kuliner di Desa Japan.

“Kami berharap, di dalam pemberdayaan desa sebagai destinasi wisata ini harus selalu berkembang. Disamping membutuhkan kreativitas dan inovasi, memang harus ditunjang dengan perencanaan dan pengelolaan yang tepat,” jelasnya.

Disamping itu, Hartopo juga menyempatkan diri untuk berinteraksi dengan para pedagang buah di Desa Japan. Ternyata, buah-buahan yang dijual merupakan hasil perkebunan yang dikelola oleh warga setempat. Desa Japan memiliki potensi lagi sebagai kawasan penghasil buah-buahan. Apabila dikelola dengan baik, dirinya yakin dapat semakin menarik minat wisatawan.

“Buah-buahan ini diminati oleh wisatawan. Sehingga kedepan bisa lebih dikelola lagi, agar wisatawan dapat memetik sendiri dan hasilnya ditimbang dengan harga yang ditetapkan. Jadi, mereka para wisatawan merasa puas bisa memilih dan memetik buah sendiri,” pungkas Hartopo. (BP/02)

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan