EWS Tempur Tidak Berfungsi Baik, BPBD Jepara Monitor Manual

BERITAPANTURA.id, JEPARA – Keberadaan Desa Tempur Kecamatan Keling Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, merupakan salah satu desa dengan potensi bencana tanah longsor tinggi. Bahkan sudah beberapa kali, desa ini terisolir karena tanah longsor bahkan banjir.

Petinggi Tempur Sutoyo bercerita, bahwa sejak lima tahun terakhir setiap musim hujan selalu terjadi tanah longsor. Baik longsor di wilayah permukiman maupun di area persawahan dan kebun sehingga menyebabkan akses jalan desa tertutup.

Petugas BPBD bersama Ketua DPRD Jepara memeriksa alat pendeteksi bencana di Desa Tempur pada Selasa (24/12/2019)

Sejak Juli 2019, ada empat alat deteksi dini atau Early Warning System (EWS) dipasang di beberapa titik Desa Tempur. Yaitu satu alat pendeteksi curah hujan dan tiga alat pendeteksi pergerakan tanah. Pemasangan sendiri dilakukan oleh tim dari Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta.

Diantaranya di samping kantor desa terpasang alat pendeteksi curah hujan, komponennya antara lain spiker berukuran sedang, panel surya, batre, dan tabung penampung air hujan. Alat ini akan mengeluarkan suara peringatan apabila curah hujan mulai tinggi.

Di Dukuh Kemiren terpasang satu alat pemantau pergerakan tanah, alat ini ditempatkan di lereng dengan ketinggian lebih kurang 600 meter dari permukaan air laut. Di komponen alat ini terdapat spiker berukuran kecil, panel surya, batrei, dan tali yang membentang antar lereng perbukitan. Jika terjadi guncangan atau pergerakan tanah minimal 7 centimeter, alat ini akan mengeluarkan suara peringatan, namun suaranya tidak nyaring terdengar hingga kejauhan.

Ketua DPRD Kabupaten Jepara, Imam Zusdi Ghozali, didampingi petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara dan perengkat desa, memeriksa alat pendeteksi dini.

“Loo.. suaranya tidak terdengar, warga di sekitar kurang jelas mendengar suara spikernya. Saya tanya petugas BPBD, biaya perawatan tidak ada. Apa pemerintah kabupaten tidak malu, ini (alat pendetksi dini) hibah pemerintah provinsi,” ujar Imam.

Mestinya alat pendetksi dini tidak hanya dipasang di Desa Tempur. Sebab, sejumlah desa di kawasan pegunungan Muria juga berisiko tanah longsor. Itu seperti Desa Kunir, Dudakawu, Bungo, dan Tanjung.

Saat diperiksa, alat pendeteksi curah hujan berfungsi normal. Namun, alat pendeteksi pergerakan tanah yang dipasang di Dukuh Kemiren tidak berfungsi dengan baik. Suara peringatan tidak dapat berbunyi sebagaimana fungsinya untuk memperingatkan warga sekitar.

“Duplak dan Glagah ternyata belum terpasang, di Tempur saja masih kurang dua titik. Selain kendala kurangnya peralatan juga ada yang tidak berfungsi dengan baik, maka saya minta warga masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan. Jangan sepenuhnya bergantung pada alat,” kata Imam. (BP/01)

One thought on “EWS Tempur Tidak Berfungsi Baik, BPBD Jepara Monitor Manual

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: