Jepara Darurat HIV-AIDS, Temuan Capai 1.135 Kasus

banner 468x60

BERITAPANTURA.id, JEPARA – Kasus HIV-AIDS di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah mencapai 1.135 temuan. Jumlah tersebut menjadikan bumi kartini sebagai kabupaten dengan jumlah pengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV) tertinggi di Jawa Tengah. Dan di perkirakan jumlah kasus HIV-AIDS akan mencapai puncak tertingginya 3-5 tahun kedepan.

Salah satu narasumber saat memberikan penjelasan tentang HIV-AIDS di Kantor PWI Cabang Jepara

Hal tersebut muncul saat diskusi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Jepara bersama DPRD dan Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara dengan tema Jepara darurat HIV-AIDS. Dalam diskusi tersebut Kepala Bidang Penanggulangan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Fakhruddin menyebut angka itu adalah komulatif antara tahun 1997-2019.

Menurutnya, temuan itu berarti dua hal sebagai peringatan bagi pemerintah dan warga. Di sisi lain hal itu menunjukkan kesadaran warga untuk memeriksakan diri semakin membaik. Dengan temuan ribuan kasus HIV-AIDS tersebut berarti petugas kesehatan dan pihak terkait serius dalam melakukan berbagai macam hal termasuk screening bagi orang-orang yang memunyai risiko tinggi akan penyakit itu.

Kepala Bidang Penaggulangan dan Pengendalian Penyakit Kabupaten Jepara Fakhrudin mengungkapkan, berdasarkan data yang saat ini persebaran HIV-AIDS merata di 16 kecamatan. Kecuali Kecamatan Mayong, Welahan, Kalinyamatan dan Nalumsari. Seluruh wilayah masuki zona merah virus yang menyerang daya imun tubuh itu. Kecamatan dengan jumlah tertinggi temuan kasus tersebut adalah Bangsri dengan 137 kasus, disusul Kecamatan Kembang 111 kasus, Donorojo 94 kasus, Mlonggo 93 kasus dan Kota Jepara 91 kasus.

“Dari jumlah orang yang terjangkit virus itu 921 diantaranya masih hidup dan memerlukan penanganan khusus. Baik dari segi pengobatan medis ataupun konseling serta peningkatan kualitas hidup,” kata Fakrudin.

Ia bahkan memperkirakan temuan kasus baru akan terus ada selama 3 hingga 5 tahun kedepan. Mengingat masa inkubasi virus yang mencapai 3-10 tahun di dalam tubuh. Karena pada kurun tersebut, orang yang terjangkit bisa saja merasa sehat.

Di tengah tingginya kasus HIV-AIDS di Jepara justru dukungan dana untuk penanggulangan penyakit itu dirasa tidak maksimal. Hal itu diakui oleh seorang ODHA sekaligus pendamping sebaya Nurul Saafatun. Dirinya mengatakan memang sudah ada anggaran untuk penanggulangan HIV-AIDS, namun masih kurang layak. Dan ironisnya lagi tahun 2020 anggarannya bahkan dipangkas separuh.

“Saya berharap kepada pemerintah agar memperhatikan mereka yang sudah terjangkit virus HIV-AIDS dan terus memberikan pendampingan. Dan saya akan terus berupaya mendampingi para ODHA yang ada di Jepara untuk tegar dan terus minum obat,” ujar Nurul.

Mendapati tingginya kasus HIV-AIDS di Jepara, Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Jepara Nur Hidayat mengaku prihatin. Dia berkata alokasi dana untuk masalah ini masih kalah jauh dibanding sektor lain. “Maka untuk itu dirinya akan kawal persoalan ini, nanti di sisi penganggaran supaya teman-teman bisa menyampaikan agar kami sampaikan pada bupati,” pungkas Hidayat. (BP/02).

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan